Diskusi Seputar Inovasi Kolaborasi Pengembangan Homestay, Desa dan Kampung Wisata, BPR MSA Hadirkan Kemenparekraf RI dan Dinas Pariwisata

BPR MSA berfoto bersama perwakilan dari Kemenparekraf RI, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dalam acara FGD BPR MSA UMKM 5.0


Sebagai rangkaian kegiatan pendampingan BPR MSA dalam program UMKM 5.0, kami mengadakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) yang berfokus pada sektor garapan akomodasi. Lebih mengerucut, BPR MSA ingin memberikan upgrading kepada mereka yang bergerak di usaha homestay, desa wisata dan kampung wisata. Bertempat di Lobby UMKM Corner BPR MSA, Jalan C. Simanjuntak No. 26 Terban, Yogyakarta, kami menghadirkan stakeholder pariwisata untuk berdiskusi secara langsung mengenai pengelolaan, pemasaran dan inovasi para pelaku usaha dan UMKM, serta kontribusi dari instansi dan komunitas terkait dalam mengembangkan dan memberi dukungan kepada pelaku usaha.

AA Kunto A, seorang praktisi dalam bidang copywriting dan expert di bidang media dan pers, tampil sebagai moderator dalam sesi diskusi ini. Dalam pembukaannya, beliau menjelaskan bahwa FGD ini dibuat secara eksklusif untuk membatasi fokus perbincangan sesuai tema, tanpa membatasi para peserta untuk berimajinasi dan memikirkan ide dan gagasan untuk berkolaborasi. Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini berlangsung sangat padat dan akurat, karena menghadirkan langsung dari sektor pemerintahan yang sangat erat dengan pariwisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia lewat Direktur Pengembangan SDM Pariwisata, Ika Kusuma Permana Sari di hari sebelumnya telah bertatap muka secara langsung dengan BPR MSA dalam Breakfast Meeting di Hotel Grand Mercure Yogyakarta. Lewat meeting ini, Kemenparekraf RI memberikan dukungan kepada BPR MSA untuk terus bergerak mendampingi UMKM yang bergerak di sektor pariwisata dan akan terus mengupayakan adanya kolaborasi selanjutnya.

Di hari sebelum FGD, Direktur Pengembangan SDM Pariwisata Kemenparekraf RI, Ika Kusuma Permana Sari (tengah) dan BPR MSA melaksanakan breakfast meeting di Hotel Grand Mercure Yogyakarta


Di hari pelaksanaan FGD, Kemenparekraf RI diwakili oleh Undhan Sevisari, Analis Kebijakan Ahli Madya, yang dalam penjelasannya menyampaikan bahwa ada dua hal yang penting untuk ditonjolkan dalam pariwisata, yaitu people (orang / SDM) dan uniqueness (keunikan) sehingga bisa menjadi salah satu objek pariwisata yang unggul. Sehingga penting bagi pelaku usaha di sektor wisata untuk terus mengembangkan kualitas SDM dan hal-hal unik yang ditonjolkan sebagai ciri khasnya. Edi Subagiyo selaku pengelola Kampung Wisata Sosromenduran yang akrab dengan Pasar Kembang (Sarkem) mengiyakan pernyataan tersebut dan menjelaskan bahwa di kampung wisata Sosromenduran juga dapat bangkit secara ekonomi karena keunikan dari program yang dimiliki, salah satunya adalah SENJALAN dimana pelancong diberikan paket wisata di sore hari sambil berfoto menggunakan pakaian adat jawa. Ini yang kemudian dapat membuat mereka menjadi tempat wisata yang unggul dan mampu bersaing.

Seiring dengan kelebihan yang ada, diskusi ini pun juga mengulas tentang hambatan, tantangan serta kekurangan yang dialami oleh penyedia layanan pariwisata, khususnya ketika dihadapkan pada tantangan untuk bangkit dari pandemi Covid-19, untuk bisa melayani wisatawan kembali secara normal dan terus meningkat. Miftakhudin, pengelola homestay Rumah Gaharu menjelaskan, dirinya dan tim telah mampu untuk melakukan inovasi dalam mengembangkan pengunjung di bisnisnya, salah satunya dengan melibatkan komunitas seni untuk hadir dalam paket wisatanya, namun konsistensi untuk menjalankan ini ternyata menjadi hambatan. Juga kurangnya upaya untuk memaksimalkan konten untuk branding sehingga hal-hal yang seharusnya tampak keren jadi tidak terdokumentasikan dengan baik.

Forum Group Discussion (FGD) dipandu oleh AA Kunto A, seorang praktisi di bidang jurnalis dan kepenulisan, bertempat di Lobby UMKM Corner BPR MSA


Perwakilan dari Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Trilita Yanti dalam pemaparannya menyampaikan, saat ini data yang detail mengenai pergerakan industri homestay di Yogyakarta belum dihitung secara komprehensif, sehingga pihaknya akan berupaya untuk melakukan itu di waktu kedepan, serta beliau juga menjelaskan pentingnya pengklasifikasian homestay menjadi tipe kelas satu, dua dan seterusnya, agar homestay juga berlomnba-lomba menyuguhkan fasilitas terbaik, seperti yang dilakukan di industri perhotelan. Namun demikian untuk Desa dan Kampung Wisata, Dinas Pariwisata DIY saat ini telah aktif untuk melakukan pendampingan dan mengadakan penganugerahan Desa Wisata terbaik, serta sudah ada peraturan undang-undang khusus tentang Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Direktur BPR MSA, Y. Triagung Pujiantoro dalam sambutannya memberikan statement bahwa lewat program BPR UMKM 5.0 saat ini BPR MSA telah melakukan pendampingan yang masif terhadap UMKM, dan juga melakukan pembentukan ekosistem digital lewat aplikasi MSA On Hand yang saat ini sudah secara eksklusif menghadirkan wadah bagi nasabah maupun mitra untuk berinteraksi dan mendapatkan informasi produk. Ditambahkan oleh Kepala Bagian Marketing BPR MSA, Emanuel Kristiantoro, bahwa program ini diharapkan dapat menghasilkan interkoneksi yang baik antara pelaku usaha dan expertise serta birokrasi atau instansi, sehingga bisa menjalin komunikasi yang hebat untuk nantinya juga dapat menghasilkan produk dan program yang dahsyat pula.

(PW)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *